Maung Kejajaden merupakan kisah tentang manusia yang berubah menjadi Harimau atau Maung jadi jadian atau simbol gaib penjelmaan prajurit dan raja. Menurut legenda, dimana manusia yang telah memilih menjadi pengikut Padjajaran dan bersumpah setia pada Prabu Siliwangi akan diubah wujudnya menjadi Maung (Harimau). Mereka akan kembali “pulang” ke Padjajaran menjadi prajurit gaib yang akan ditugaskan menjaga bekas wilayah dan pusaka Kerajaan Padjajaran. Mereka dipercaya masih menjaga keturunannya dan seringkali memberikan petunjuk melalui penampakan maupun dalam mimpi jika ada hal yang membahayakan keturunannya.
Kisah mengenai “Maung Kajajaden” pernah diceritakan secara turun temurun di keluarga kami. Tentang apa yang terjadi di keluarga kami pada jaman dahulu yang berkaitan dengan kisah ini.
Kami mencoba mengangkat kembali kisah ini dan diceritakan oleh Kang Buluk dan Kang Acuy dalam logat dan bahasa sunda, termasuk video perdana dari chanel youtube kami. Untuk lebih lengkapnya bisa dilihat di chanel youtube kami :
Rangkuman video ini bahwa kisah ini terjadi di keluarga kami sekitar tahun 1940 sampai dengan 1960an. Maung Kajajaden ini terjadi dan dialami oleh sahabat kakek kami (Pak Aki ) yang bernama Ki Saad atau Ki Aat. Menurut cerita orangtua kami, baik Ki Aat maupun pak Aki masih sama sama keturunan Kerajaan Padjajaran, tetapi hanya Ki Aat yang konon melakukan sumpah setia pada Prabu Siliwangi. Semasa hidupnya mereka berkawan baik, bahkan sampai pada saat Ki Aat kembali ke Padjajaran dan berubah menjadi Maung atau Harimau. Dia tiba tiba menghilang dan hanya meninggalkan jejak baju dan celananya di kebun milik keluarga kami. Sampai saat ini sosok Maung “Ki Aat” masih sering menampakkan wujudnya di lingkungan keluarga kami, bahkan menurut cerita orangtua kami Ki Aat akan menjaga anak dan keturunan pak Aki.
Kisah ini kami bagikan untuk berbagi cerita mengenai mitos yang terjadi secara nyata di tanah leluhur kami. Bahwa adanya keragaman budaya dan mitologi yang ada di nusantara, bukan untuk pembenaran ataupun memaksa untuk meyakini.
“Ada kisah yang tak tertulis dalam buku sejarah, tetapi terukir dalam ingatan keluarga. Tentang arti persahabatan dan jejak leluhur yang hadir menjaga kententraman dan keselamatan keturunannya.” <Viocca>


